By Charis Dewayu (Dewi)
Ketika Proses Terasa Berat, Itu Bukan Tanda Gagal.
Setelah menjalani sesi Body Communication Resonance (BCR), ada satu fase yang sering mengejutkan banyak orang. Keterkejutan itu juga saya alami sendiri secara langsung: fase healing crisis.
Alih-alih langsung merasa ringan atau lega, hal yang muncul di saya pasca menerima sesi BCR-Head pada awal tahun 2025 di Semarang bukanlah hal yang menyenangkan. Memang benar, saya bisa mulai tidur lelap. Di sisi lain, saya menyadari emosi saya semakin intens naik dan turun, mood swing, dan mudah ke-trigger oleh hal-hal random. Tubuh tiba-tiba mengalami sensasi lelah, tegang, kadang berat. Tidak hanya itu saja, beberapa ingatan traumatik lama yang bahkan sudah benar-benar terlupakan, datang lagi tanpa diundang. Ingatan itu hadir dengan sangat jelas.
Semua yang saya sebutkan itu tentu memunculkan keinginan untuk menarik diri dari sesi BCR selanjutnya, pada waktu itu. Saya berpikir: pasti saya begini gara-gara BCR. Tampaknya ada yang salah. Namun ternyata, pikiran saya memang keliru, terlalu cepat menarik kesimpulan. Kemudian saya pelajari, saya bertanya, menggali dan ternyata justru BCR lah yang membuat saya mampu melihat kondisi bahwa: ya emang dari dulu saya begitu, cuma nggak nyadar aja.
BCR membangunkan kesadaran saya tentang hal-hal yang selama ini saya jalani dalam ketidaksadaran, yaitu hari-hari ketika saya hidup dalam survival mode dengan defense mechanism yang super aktif 24/7.
Prosesku Berlanjut
Selanjutnya, sambil terus menerima sesi BCR secara berkala dari Pak Samuel Adi yang juga salah satu praktisi BCR, perjalanan menuju pulih tidak serta merta terasa sebagai hari-hari yang mulus. Perjalanan menuju pulih itu tidak bisa dibayangkan seperti hidup yang tanpa challenge. Bukan saja tiba-tiba menangis tanpa sebab, melainkan juga terkadang tertawa begitu saja tanpa perlu alasan jelas. Semua itu, termasuk juga emosi apapun, termasuk amarah yang muncul ternyata memang merupakan bagian dari proses detox untuk saya bisa menyadari: ini terkait area mana, ya? Tentang apa, ya? Kecenderungan self-harm yang muncul kembali ini bicara dari sisi yang mana, ya?
Selanjutnya, saya mendapatkan pemahaman bahwa setiap hal apapun termasuk semua emosi yang hadir, setiap sensasi nggak enak yang muncul di tubuh pasca BCR, bukan berarti saya “kambuh” atau “makin memburuk”. Semua itu hanyalah penunjuk jalan menuju “akar” yang perlu dicabut. Maka yang perlu saya lakukan hanyalah mengikuti jalur yang tampak. Semacam kalau lagi marah itu saya ibaratkan ada “monyet penunjuk jalan” yang tiba-tiba nongol dan bilang, “Hei! Aku di sini! Kejar aku! Temukan akarnya!”
Tentu, semuanya tidak semudah yang tertulis di sini. Perlu keberanian untuk memilih bersedia duduk berhadapan dengan diri sendiri. Karena pada fase ini semuanya bukan tentang orang lain lagi, tapi tentang diri sendiri. Challenging.
Ketika saya memutuskan bersedia terima prosesnya, apa yang terjadi? Ternyata setiap hari semesta memberi “kelas” yang berbeda-beda temanya. Keseharian yang dijalani seperti main game yang setiap level ada misi untuk dituntaskan, dan ketika misi itu belum tuntas, saya perlu mengulang. Kelas semesta mirip seperti game itu. Ketika saya lulus, mission acomplished, tema berikutnya menjadi tantangan baru, membuka lapisan baru. Jika saya belum memahami makna pembelajaran hari ini, besok ada kelas remedial, bisa seminggu, bisa sebulan. Dari sini saya paham tentang looping, melalui practical sehari-hari. Bagi saya, BCR memberi saya program kelas akselerasi “memahami diri”.
Pernah suatu ketika, di tengah perjalanan dari Yogyakarta menuju Surabaya–sekitar sebulan setelah sesi body process BCR-Head & Body pertama yang saya terima, saya menangis sejadi-jadinya di gerbong kereta. Apa yang terjadi? Ada kebencian mendalam terhadap sosok di masa lalu saya yang terbangunkan kembali hanya oleh satu trigger kecil–telepon yang tidak diangkat oleh partner saya.
Saya tidak peduli orang mendengar atau melihat saya menangis kala itu. Saya pun sempat heran, padahal, selama bertahun-tahun lamanya saya tenang. Saya pikir saya sudah memaafkan. Namun, ternyata saya cuma lupa karena memori saya terkait hal itu terkunci rapat. Lalu, kejadian-kejadian serupa lainnya berentetan bergantian. Ini membuat kepala saya mengalami turbulensi oleh karena pertanyaan: “Lalu selama ini yang kuanggap pulih itu apa? Karena ternyata melalui BCR saya menemukan masih banyak layer yang tersimpan.
BCR membuka layer itu begitu dalam langsung ke intinya. Setiap sesi BCR akan membongkar semua sisi gelap diri dan membuatnya muncul kembali untuk diakui, diproses, dan diubah. Semua yang muncul adalah clue penting untuk menghadirkan hal-hal tersembunyi yang belum benar-benar selesai. Hal ini membuat saya kemudian memutuskan untuk mendalami dan mengikuti kelas BCR Level 1 Head & Body, di Semarang dan menjadi seorang praktisi juga.
Sebuah diskusi dengan dr. Dhavid Avandijaya Wartono, Embodied Consciousness Architect Innovator mengungkap bahwa semua hal “tidak mengenakkan” yang saya alami setelah menerima sesi BCR bukanlah bentuk dari kegagalan metode. Certified Facilitator of BCR itu menyatakan bahwa justru, hal tersebut menandakan prosesnya benar-benar bekerja—dan masuk lebih dalam.
Oleh karena itu, BCR tidak berhenti di permukaan. Ia menyentuh akar. Dan ketika akar disentuh, yang lama memang akan bergerak keluar. Ini adalah progress, walau memang kesannya menyakitkan. Di sinilah tantangannya.
“Satu hal penting perlu kamu sadari sejak awal: metode ini bekerja cepat, dalam, dan langsung ke akar,” ungkap dr. Dhavid.
Ia juga melanjutkan pesannya, “Jika itu terjadi, tolong ingat satu hal ini: jangan kabur, hadapi, akui, lepaskan, iklaskan, ubah.”
Apa Itu Healing Crisis dalam Proses BCR?
dr. Dhavid, menyampaikan bahwa healing crisis adalah fase ketika tubuh dan kesadaran mulai melepaskan beban lama yang selama ini tertahan—secara fisik, emosional, maupun energetik. Bukan karena kita rusak. Bukan karena kita salah jalan. Justru karena tubuh akhirnya merasa cukup aman untuk jujur.
Dalam BCR, lanjut dr. Dhavid, “Ketika pertahanan lama mulai runtuh, sistem tubuh dan energi akan mengeluarkan apa yang sudah tidak selaras lagi. Ini bukan kemunduran. Ini pembersihan.
Reaksi setiap orang saat menghadapi healing crisis bisa sangat beragam. Emosi yang naik turun seperti yang saya alami. Bisa juga tiba-tiba sedih, marah, takut, atau menangis tiba-tiba tanpa sebab yang jelas. Ada yang mengalami munculnya kilasan memori atau ingatan yang kembali, tubuh terasa lelah, berat, atau tidak nyaman sementara. Atau muncul keinginan untuk menarik diri, menghindar, atau berhenti di tengah jalan. Semua ini bukan musuh. Dalam pandangan BCR, semua ini adalah bahasa tubuh yang akhirnya terdengar.
Hal terakhir yang disebutkan: menarik diri, menghindar, dan berhenti di tengah jalan, juga pernah saya alami. Tiba-tiba mogok di tengah sesi BCR atau izin keluar dan berhenti ikut kelas yang sedang berlangsung. Itu pernah terjadi.
Pengalaman Saya Menghadapi Healing Crisis Setelah BCR
Buat saya secara pribadi, BCR adalah modalitas yang tidak basa-basi. Sangat cepat dan efektif. Fase-fase awal adalah momen yang sangat krusial. Saya bisa stay untuk terima proses lanjutan yang memang pasti bikin nangis, benci, marah, campur aduk. Atau memilih kabur. Tidak ada salah benar, semua itu pilihan.
Namun, kunci sebenarnya hanya satu: saya memilih mau berhadapan dengan diri saya sendiri. Karena memang pada akhirnya, dari semua yang terjadi saya tidak sedang berhadapan dengan masa lalu, orang lain, atau keadaan. Saya sedang berhadapan dengan diri sendiri yang selama ini punya banyak lapis. Pilihan ini saya ambil bukan karena saya kuat dan berani, melainkan karena saya lelah looping.
Dalam perjalanan yang saya ingat, setidaknya sejak April 2025 itu, setiap hari, BCR membuat satu per satu lapisan diri ini terbuka. Ada hari yang tema kelasnya tentang relasi. Ada hari tentang rasa tidak cukup. Ada hari tentang takut kehilangan, ada pula hari tentang kemarahan yang disamarkan jadi “baik”. Temanya berbeda, tapi intinya sama: akar permasalahan sedang dibongkar total.
Di BCR saya mendapatkan pemahaman bahwa bahwa trauma disimpan di tubuh. Hal ini selaras dengan penelitian Bessel van der Kolk dalam bukunya yang bertajuk The Body Keeps the Score: Brain, Mind, and Body in the Healing of Trauma. Pengalaman emosional—terutama yang tidak sempat diproses—tersimpan dalam sistem saraf dan tubuh, bukan hanya di pikiran. Di bukunya, Ia menjelaskan bahwa trauma dapat mengubah fungsi otak dan respon tubuh terhadap dunia, serta bagaimana tubuh terus bereaksi bahkan setelah trauma berakhir.
Itulah sebabnya, saat tubuh masuk ke kondisi aman melalui sesi BCR, berbagai memori emosional bisa muncul kembali. Blokade emosional mulai terbuka. Ketika sesi BCR membantu tubuh berpindah dari mode bertahan (fight–flight–freeze) ke kondisi lebih aman (parasympathetic state), tubuh mulai menyelesaikan siklus yang dulu tertunda. Dari sini jelas bahwa emosi yang muncul bukan kemunduran.
melainkan proses penyelesaian. Hal ini pula yang menjawab pertanyaan saya mengapa reaksi after BCR bisa begitu intens, tapi justru itu yang menyehatkan.
Kenapa Banyak Orang Mengira BCR “Tidak Works”
Tidak semua orang siap masuk ke fase healing crisis. Fase ini membuat seseorang berhadapan dengan dirinya sendiri melalui semua hal yang dihadirkan oleh semesta melalui kejadian tertentu, kondisi tertentu, orang-orang tertentu. Fase ini membuat seseorang perlu memilih untuk melepaskan hal-hal yang tidak relevan, apalagi hal-hal yang tadinya “dianggap menyenangkan” .
Banyak yang berhenti saat healing crisis datang. Lalu berkata, “BCR nggak works.” Saya mengamatinya juga dari klien-klien yang saya tangani dengan metode BCR. Tidak semuanya bisa “stay” ketika ketidaknyamanan muncul.
Saya memahaminya sebagai pembelajaran penting bahwa tidak semua orang siap dan cukup mempunyai keberanian untuk melihat sisi tergelap dari dirinya sendiri, dan itu bukan salah. Itu pilihan.
Inti dari BCR adalah keberanian untuk jujur dan hadir karena BCR memang akan membangunkan bagian-bagian diri yang selama ini disimpan rapi seperi luka lama, emosi yang ditahan, dan pola bertahan hidup yang dulu menyelamatkan, tapi kini membatasi.
Dalam kesemuanya itu, untuk setiap orang yang masuk pada fase healing crisis, dr. Dhavid menjelaskan bahwa fase ini adalah waktu untuk memilih “mau berubah”.
“Jika sekarang terasa intens, itu karena kamu tidak lagi menunda hidupmu sendiri. BCR efektif karena ia tidak memutar di permukaan. Ia langsung ke inti. Ketika inti disentuh, yang lama memang harus keluar, agar yang baru bisa masuk.”
Ia melanjutkan, kunci untuk tetap kuat dan konsisten adalah bergaul dengan sesama teman yang nurturing dan bersedia memberi ruang untuk berlatih bersama, saling memberikan dukungan, saling support, dan saling mengingatkan. Menurut dr. Dhavid, perlu untuk semua yang menerima sesi BCR dan mau berubah bersedia menyadari bahwa fase ini bukan akhir yang menakutkan.
“Sadari: Ini adalah gerbang perubahan. Tubuhmu tahu caranya. Kesadaranmu tahu arahnya. Tugasmu hanya satu: tetap sadar, tetap hadir, dan berani melepaskan. Kamu tidak sendirian. Dan kamu tidak salah jalan.” Lanjutnya.
Pentingnya Komunitas dalam Proses BCR
Satu hal krusial agar tetap kuat dan konsisten adalah: berjalan bersama sesama yang berlatih. Bukan untuk saling menguatkan secara palsu. Tapi untuk saling mengingatkan bahwa: proses ini nyata, fase ini wajar, dan kita tidak sendirian. Ini adalah alasan pentingnya tergabung dalam komunitas dalam proses BCR.
Konsistensi bukan soal mental baja, tapi soal tidak menutup diri saat proses sedang bekerja. Karena healing crisis bukan akhir, melainkan gerbang. Saat healing crisis datang, tugas kita hanya satu: tetap sadar, tetap hadir, dan berani melepaskan.

